Walungan Selesaikan Bangunan Pusat Pembiakan Domba di Pasir Angling

Fasilitas pembiakan domba yang dibangun oleh Walungan di Pasir Angling. (Foto: Yudha PS)

Guna meningkatkan proses pembiakan domba, Divisi Peternakan Walungan membangun fasilitas Pusat Pembiakan Domba (PPD) di Pasir Angling, Suntenjaya, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat. Riki Frediansyah, Ketua sekaligus Kepala Divisi Peternakan Walungan, menargetkan fasilitas ini mampu meningkatkan pembiakan domba di Pasir Angling. Rencananya, PPD akan mulai difungsikan mulai Oktober 2021.

Pusat Pembiakan Domba sendiri memiliki kapasitas empat ruangan pembiakan dengan total ukuran 5 x 10 meter persegi. Masing-masing ruangan bisa menampung 10 ekor domba yang terdiri dari sembilan betina dan satu jantan. Selama tiga bulan, domba-domba tersebut akan dipelihara di ruangan tersebut hingga mengalami kebuntingan. Setelahnya, baru domba-domba betina dipisahkan ke kandang khusus. Di kandang ini, betina akan dimonitor perkembangan kebuntingan hingga proses kelahiran tiba.

Lebih lanjut, Riki menyampaikan bahwa PPD memiliki fungsi strategis dalam proses peternakan domba. Menurut alumni Kedokteran Hewan IPB ini, fasilitas pembiakan bertujuan untuk menjaga kualitas domba. Peternak bisa mengatur perkawinan antar domba-domba yang memiliki bibit unggul dengan anakan yang sesuai dengan karakter gen induknya dan sehat secara fisik. “Jangan sampai terjadi in-breeding. Kualitas anakannya bisa buruk,” papar Riki.

Menurut Riki, In-Breeding sendiri merujuk kepada pembiakan yang induknya memiliki gen berdekatan, seperti: pejantan yang kawin dengan induknya, atau pejantan yang kawin dengan anaknya. Bisa dipastikan, kualitas anak yang dilahirkannya akan jatuh, bahkan kesehatannya cenderung rentan. Dalam konteks ini, PPD membantu peternak untuk menghindari perkawinan antar domba yang memiliki gen berdekatan.

Berbasis Peternakan Integratif
Pusat Pembiakan Domba Pasir Angling memiliki banyak keunggulan secara rancangan. Menurut Riki, timnya menerapkan aspek Pertanian & Peternakan Integratif yang membuat PPD mempermudah peternak, ramah terhadap lingkungan, dan memperhatikan kenyamanan ternak.

Riki mencontohkan dengan lantai kandang yang terbuat dari bambu. Bilah-bilah bambu dibuat agak renggang, sehingga limbah berupa padatan dan urin terpisah secara otomatis. Selain meminimalisir aroma tidak sedap dari kandang, sistem ini mempermudah proses pembuatan pupuk dari limbah padat dan cairan secara terpisah.

Kawasan kandang juga dirancang agar nyaman untuk hewan dan peternaknya. Bagi ternak, Riki menyediakan arena gembalaan, menjaga kebersihan kandang, menyuplai makanan bergizi, serta menanam tumbuh-tumbuhan di sekitar kandang. Sedangkan bagi peternak, rancangan PPD ini membuat mereka lebih mudah dalam bekerja, sejuk dalam memandang, dan tetap bersih dalam beraktivitas.

Riki juga mempertimbangkan aspek cuaca dan iklim di Pasir Angling untuk fasilitas pembiakannya tersebut. Ayah dua anak ini merancang dinding kandang yang mampu menahan angin dan air hujan yang datang secara tidak beraturan akibat posisi PPD yang berada di lembah. Air hujan sendiri kemudian dialirkan ke tempat yang membuatnya bisa dipanen.

Aspek tumbuhan di sekitar PPD juga jadi faktor penting bagi ternak dan peternaknya. Riki menanam berbagai tumbuhan yang memiliki fungsi yang spesifik dan saling menunjang satu sama lain. Selain rumput untuk pakan ternak, pria kelahiran tahun 1970an ini juga menanam Lidah Mertua. Tumbuhan yang satu ini berfungsi untuk menyerap bebauan di sekitarnya, sehingga membuat kandang jauh dari aroma yang tidak sedap. Ada juga Edible Flower yang indah, bernilai ekonomi, dan berkhasiat kesehatan.

Dalam proses penanamannya, Riki mengajak Karang Taruna Pasir Angling untuk mempercantik kawasan PPD. Hal ini diharapkan mampu membangun keguyuban dan kesadaran para pemuda tentang pentingnya posisi mereka dalam masyarakat. Pada akhirnya, Pusat Pembiakan Domba Pasir Angling bukan saja jadi kawasan peternakan integratif yang indah, nyaman, dan juga produktif. PPD juga simbol dari gotong royong para pemuda Pasir Angling sebagai generasi penerus bangsa.

Lebih lanjut, Riki berharap fasilitas Pusat Pembiakan Domba Pasir Angling tersebut bisa menjadi salah satu model peternakan domba integratif di Indonesia sekaligus jadi ruang belajar para peternak di Bandung, Jawa Barat, dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, sosok murah senyum ini mengundang mereka yang ingin belajar tentang peternakan integratif untuk datang ke Pasir Angling. “Silahkan datang, dan kita sama-sama belajar di sini,” ajaknya.***

Walungan Rintis Aktivitas BimBelMat untuk Anak-anak Pasir Angling

Anak-anak Pasir Angling berfoto bersama dengan pengajar dan pengelola kegiatan. (Foto: Riki F)

Walungan melalui Divisi Pendidikan memulai aktivitas Bimbingan Pembelajaran Matematika (BimBelMat) untuk siswa SD dan SMP di Kampung Pasir Angling, Suntenjaya, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu, 28 Agustus 2021. Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan program Literasi dan Pendidikan Walungan sekaligus memfasilitasi kesulitan anak-anak Pasir Angling dalam aktivitas Pembelajaran Jarak Jauh.

BimbelMat ini diampu oleh Rika Fitria, pengajar Matematika di Bandung. Kegiatan ini digelar di Basecamp Walungan PasirAngling yang diikuti oleh 8 orang siswa SD dan SMP asal Pasir Angling. Setiap Sabtu dua pekan sekali, mereka akan mengeksplorasi konsep dan kegembiraan dalam belajar Matematika.

Riki Frediansyah, Ketua Walungan, menyampaikan bahwa aktivitas ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat Walungan kepada masyarakat Pasir Angling. Menurutnya, anak-anak di Pasir Angling mengalami kesulitan belajar ketika pandemi COVID19 melanda Indonesia. “Banyak siswa yang terkendala kuota untuk belajar daring, sehingga tidak mampu memahami topik pembelajaran di sekolah,” papar lulusan IPB ini.

Setelah mengikuti BimBelMat Walungan ini, Riki menyampaikan bahwa anak-anak merasa sangat senang, antusias, dan bersemangat. Respon anak-anak ini didapatnya dari kuesioner yang dibagikan selepas kegiatan berlangsung. “Bahkan para peserta ingin membahas tugas sekolahnya di BimBelMat,” kisahnya.

Dari pantauan Riki selama berkegiatan, anak-anak tampak rileks dalam belajar Matematika. Mereka duduk dengan tenang dan nyaman dengan mode lesehan, lalu aktif berdialog dengan pengajarnya. Selain itu, anak-anak juga senang dan cocok dengan metode pengajaran dalam BimBelMat. Mereka diajak untuk bermain dengan angka, sehingga membuat Matematika berubah menjadi topik yang menyenangkan untuk dieksplorasi.

Ke depan, kegiatan ini akan terus dikembangkan oleh Walungan sebagai bagian dari program riset dalam sektor pendidikan pedesaan. Riki berharap, BimBelMat ini bisa memunculkan model pembelajaran yang cocok bagi anak-anak di desa dengan pendekatan: menyenangkan, motivatif, tepat guna, penuh wawasan, dan reflektif.

Riki juga berencana untuk memperkuat aktivitas BimBelMat dengan membangun perpustakaan di Pasir Angling. Di dalamnya, perpustakaan ini akan berisi buku-buku yang berkualitas sekaligus sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pasir Angling. “Semoga perpustakaan ini bisa melahirkan anak-anak Pasir Angling dengan wawasan yang lebih luas di luar topik pembelajaran di sekolah sekaligus bercita-cita tinggi setelah menamatkan pendidikan dasar,” ungkap Riki, penuh harap. ***